Selamat! Rinjani & Ciletuh diakui sebagai UNESCO Global Geopark

Rinjani National Park (foto : rinjaninationalpark.com)
Rinjani National Park (foto : rinjaninationalpark.com )

2 destinasi di Indonesia baru saja diakui sebagai UNESCO Global Geoparks baru, yakni Geopark Rinjani (Lombok) dan Geopark Ciletuh (Sukabumi). Dengan begitu, kini Indonesia memiliki 4 UNESCO Global Geopark. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Geopark? Geopark adalah area terpadu yang mengedepankan perlindungan dan penggunaan warisan geologi secara berkelanjutan, dan mempromosikan kesejahteraan ekonomi dari orang-orang yang tinggal di sana. Geopark dibagi dua kelompok yakni Global Geopark dan National Geopark. Selain Rinjani & Ciletuh, Indonesia sudah lebih dulu memiliki 2 Global Geopark yaitu Batur & Gunung Sewu Geopark. Sementara Raja Ampat Geopark, Merangin Geopark, dan Danau Toba Geopark masih berstatus National Geopark. Saat ini Toba Caldera sedang proses pengajuan sebagai Global Geopark. Di Asia, China memiliki paling banyak Global Geopark, sebanyak 37. Jepang punya 9 Global Geopark.

UNESCO Global Geoparks adalah wilayah geografis tunggal dan bersatu di mana situs dan lanskap geologi internasional dikelola dengan konsep holistik berupa perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan. Sebuah UNESCO Global Geopark menggunakan warisan geologisnya, sehubungan dengan semua aspek lain dari warisan alam dan budaya daerah, untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang isu-isu kunci yang dihadapi masyarakat, seperti menggunakan sumber daya bumi kita secara berkelanjutan, mengurangi dampak perubahan iklim dan mengurangi risiko terkait bencana alam. Dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan geologi area dalam sejarah dan masyarakat saat ini, UNESCO Global Geoparks memberi rasa bangga pada penduduk setempat di wilayah mereka dan memperkuat identifikasi mereka dengan area tersebut. Penciptaan perusahaan lokal yang inovatif, pekerjaan baru dan kursus pelatihan berkualitas tinggi dirangsang sebagai sumber pendapatan baru yang dihasilkan melalui geotourisme, sementara sumber daya geologi dari kawasan tersebut dilindungi.

Sembalun Rinjani Geopark
Sembalun Rinjani Geopark

Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark terletak di pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Sebagai bagian dari Kepulauan Sunda Kecil, pulau ini berbatasan dengan Selat Lombok di sebelah barat dan Sumbawa serta Selat Alas di sebelah timur. Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark memiliki lansekap yang kaya dan beragam, jenis hutan mulai dari savana dan hutan semi-gugur hingga hutan pegunungan bawah yang lebih rendah dan hutan cemara pegunungan tropis. Berikut beberapa tempat/atraksi menarik di Rinjani Geopark untuk dikunjungi :

Senaru Traditional Village/Desa Tradisional Senaru
Desa Tradisional Senaru terletak di sebelah Rinjani Trek Centre di mana jejak Rinjani dimulai. Gunakan pemandu lokal untuk menunjukkan Anda berkeliling. Penduduk Sasak adalah penjaga budaya Gunung Rinjani dan hutan sekitarnya dan menjaga nilai-nilai spiritualnya. Kunjungan yang dipandu secara lokal mencakup kesempatan untuk mengalami kehidupan sehari-hari penduduk desa, mengunjungi rumah-rumah jerami mereka, menyiapkan makanan menggunakan produk lokal, dan memahami cara hidup tradisional mereka.

Morning waterway walk and sunrise/Jalan air pagi dan matahari terbit
Tinggalkan penginapan Anda lebih awal selama satu setengah jam dengan berjalan melewati ladang, melewati desa-desa tradisional dan sepanjang saluran irigasi yang berliku melalui ladang-ladang desa melewati tanaman dan rumah. Nikmati kunjungan ke rumah-rumah lokal, melihat kegiatan pagi dan belajar tentang metode pertanian. Saksikan matahari terbit dari laut di bawah pemandangan spektakuler Lombok utara dari puncak Gunung Rinjani ke pantai.

Evening walk and sunset/Jalan sore dan matahari terbenam
Di bawah Desa Tradisional Senaru, satu setengah jam perjalanan dikawal di sepanjang jalan desa membawa Anda ke “air terjun rahasia” atau “kolam renang tradisional”, Tumpasan Senaru. Nikmati berenang menyegarkan atau senja sore. Pada perjalanan pulang, kunjungi beberapa dusun setempat ketika orang-orang kembali dari ladang mereka, dan nikmati matahari terbenam di atas Mt. Agung di Bali jauh dari sudut pandang di sebuah kebun setempat.

Senaru panorama walk/Senaru panorama berjalan
Temukan semua yang menarik dari Senaru dalam perjalanan setengah hari yang mudah melalui pemandangan sawah terasering yang indah, saluran air, desa tradisional, dan air terjun hutan hujan. Ikuti saluran irigasi yang melewati ladang desa – garis hidup distrik. Wanita lokal akan membimbing Anda, dengan senang hati membagikan pengetahuan khusus mereka tentang budaya, adat istiadat, dan alam. Tur ini berangkat setiap pagi dari Rinjani Trek Center.

Senaru Waterfalls/Air Terjun Senaru
Daya tarik terbaik Senaru adalah air terjun Sindang Gila yang menarik ribuan pengunjung Indonesia dan asing setiap tahunnya. Terletak sekitar 600 m di atas permukaan laut, air terjun ini mudah dijangkau dan hanya 20 menit berjalan menyusuri jalan setapak bergradasi dan beberapa langkah dari desa Senaru. Sebuah rute kembali alternatif yang menyenangkan berliku di sepanjang tepi lembah yang curam, mengikuti saluran irigasi.

Ciletuh – PalabuhanRatu UNESCO Global Geopark terletak di pulau Jawa, di Kabupaten Sukabumi. Ciletuh Palabuhan Ratu Geopark adalah sebuah konsep manajemen pengelolaan kawasan yang menyerasikan keragaman geologi, hayati, dan budaya, melalui prinsip konservasi, edukasi, dan pembangunan yang berkelanjutan di 8 kecamatan di Sukabumi, Jawa Barat – Indonesia.

Batu Punggung Naga (foto : http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org)
Batu Punggung Naga (foto : http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org)

Geopark terletak di perbatasan zona aktif tektonik: zona subduksi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia, yang terus bertemu pada 4 mm / tahun. Daerah ini dicirikan oleh keragaman geologi yang langka yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga zona: zona subduksi batuan terangkat, lanskap dataran tinggi Jampang dan zona magmatik kuno bergeser dan evolusi busur depan. Bukti untuk proses subduksi serupa yang terjadi selama usia Cretaceous (145-66 juta tahun yang lalu) ditemukan di daerah Ciletuh dalam bentuk formasi batuan yang disimpan di dalam parit subduksi dalam. Formasi batuan ini terdiri dari ophiolit, metamorf, batuan sedimen yang dalam, dan kompleks mélange dan dikenal sebagai formasi batuan tertua di permukaan Jawa Barat. Pada Oligosen-Miosen Awal (sekitar 23 hingga 15 juta tahun yang lalu), daerah tersebut mengalami peningkatan dan membentuk Dataran Tinggi Jampang. Proses tektonik selama Miosen-Pliosen (5-8 juta tahun yang lalu) menyebabkan keruntuhan gravitasi bagian dari Formasi Jampang, membentuk morfologi amfiteater alam berbentuk sepatu kuda terbesar di Indonesia dan serangkaian air terjun. Daerah ini dapat juga digambarkan sebagai ‘tanah pertama di pulau Jawa Barat’. Proses pelapukan dan kelainan mempengaruhi beberapa formasi batuan dan menghasilkan formasi unik dari batuan berbentuk binatang. Sejak Pleistocene (2,5 juta tahun yang lalu hingga baru-baru ini), aktivitas gunung berapi telah bergeser ke utara, mengakibatkan mata air panas, geyser dan sumber daya panas bumi di daerah utara.

Situs geologi di kawasan Ciletuh-Palabuhanratu dikelompokkan berdasarkan jenisnya, dan berupa :

  1. Air terjun. Banyak air terjun atau curug di geopark ini, yakni Curug Awang, Curug Cikanteh, Curug Cikaret, Curug Cimarinjung, Curug Luhur, Curug Puncak Jeruk,  Curug Puncak Manik, Curug Sodong, Curug Tengah
  2. Bentang-alam. Geoarea Ciletuh memiliki bentang alam yang sangat unik dan langka, yaitu berupa bentuk dataran tinggi dengan lembah berbentuk tapal kuda yang terbuka ke arah laut sehingga membentuk seperti panggung alam (disebut amfiteater). Amfiteater ini terbentuk karena adanya proses geologi berupa sesar normal yang diikuti oleh sebuah longsoran yang besar karena gaya vertikal lebih besar dari gaya horizontal. Lembah amfiteater dipenuhi oleh keindahan hamparan sawah yang hijau dan pemukiman. sementara di pesisir pantai bagian selatan lembah terdapat batuan yang sangat langka dan berumur lebih dari 30 juta tahun, serta batuan berbentuk unik. Keindahan amfiteater dan teluk Ciletuh dapat di lihat dari daerah Panenjoan di Desa Tamanjaya, Pamoyanan di Desa Ciemas, Puncakdarma dan Cikalapa di Desa Girimukti.
  3. Pulau-pulau kecil. Terdapat pulau-pulau kecil yang berbentuk sangat eksotik di geoarea Ciletuh. Pulau-pulau tersebut umumnya hanya berupa batuan dengan sedikit pohon-pohon kecil dan rerumputan. Pulau-pulau tersebut memiliki bentuk yang unik menyerupai binatang, seperti kura-kura, kepala badak, dan kelinci merunduk atau anjing pudel berbaring. Bentuk unik pulau-pulau tersebut diakibatkan proses erosi dan aberasi oleh air laut. Pulau-pulau yang dapat di kunjungi dengan menggunakan perahu dari pantai Palangpang: Pulau Karang Daeu, Pulau Mandra, Pulau Manuk, Pulau Kunti dan Pulau Batubelah.
  4. Batuan unik/estetik. Di sepanjang pesisir pantai antara Cikadal, Batununggul hingga Cikepuh terdapat sejumlah objek batuan yang berbentuk unik menyerupai berbagai jenis binatang, seperti kodok, kepala badak, kerbau, buaya, kepala komodo, naga, kepala singa, kepala elang dan pagar serta motif batik. Batuan unik tersebut merupakan batuan sedimen berjenis batupasir kuarsa sebagai bagian dari Formasi Ciletuh yang berumur lebih dari 45 juta tahun yang diendapkan di laut dalam. Karena proses geologi, batuan tersebut terangkat ke permukaan, dan mengalami proses erosi dan abrasi oleh ombak sehingga menghasilkan bentuk seperti sekarang. Untuk mengunjungi bebatuan ini di sarankan antara bulan April hingga bulan November, dimana kondisi laut relatif tenang dan ombak tidak membahayakan. Di luar bulan tersebut adalah musim angin barat, dimana umumnya gelombang laut sangat besar dan berbahaya untuk pelayaran. Gelombang laut biasanya sangat besar di dekat bebatuan ini, sehingga perahu tidak bisa merapat dan mendarat di lokasi ini
  5. Gua laut. Gua laut dibentuk oleh kekuatan laut yang menyerang zona lemah di tebing pantai. Zona lemah biasanya berupa zona retakan yang terbentuk karena struktur geologi. Zona lemah juga dapat terbentuk karena ada perbedaan komposisi dari perlapisan batuan di mana satu jenis batuan lebih keras dari yang lain. Pembentukan gua laut dimulai sebagai celah yang sangat sempit di mana gelombang laut dengan kekuatan yang luar biasa karena berat atau volume air dan kompresi udara yang menembus retakan batuan secara terus menerus. Pasir dan batu yang dibawa oleh gelombang menghasilkan proses erosi tambahan pada dinding gua. Sedikitnya terdapat dua gua laut di Geoarea Ciletuh, yaitu Gua Sodongparat dan Gua Kunti di Desa Mandrajaya.
  6. Batuan langka dan fosil. Di Geopark Ciletuh terdapat bebatuan langka dan fosil sebagai bagian dari situs warisan geologi. Batuan langka tersebut berupa batuan ofiolit dan batuan metamorf yang berumur lebih dari 60 juta tahun serta batuan bancuh (melange), dan fosil numulites yang berumur Eosen. Batuan ofiolit berasal dari kerak samudra yang terdiri atas: Peridotit, Gabro berlapis, dike gabro, plagiogranit, lava basalt berstruktur bantal dan bagian atasnya di tutupi oleh endapan sedimen laut dalam berupa rijang atau chert. Sedangkan batuan metamorf adalah batuan yang dihasilkan karena adanya proses tumbukan antara kerak benua dan kerak samudra karena tekanan dan temperatur yang tinggi, batuannya terdiri atas: sekis mika, sekis hijau, amfibolit, dan serpentinit, serta batuan sedimen terdiri atas batupasir kuarsa di bagian atas serta batuan bancuh di bagian bawah. Batuan sedimen ini kemudian dikenal sebagai Formasi Ciletuh.
  7. Pantai. Keindahan pantai-pantai yang di Geoarea Ciletuh sudah cukup dikenal oleh wisatawan. Pantaipantai tersebut memiliki garis pantai yang cukup luas dan landai, serta berpasir putih. Akan tetapi tidak semua pantai aman untuk berenang dan perahu menepi. Perahu umumnya hanya bisa mendarat di pantai Palangpang, Cikadal, Batununggul, Cikepuh dan Ujung genteng. Sementara pantai yang lain sulit untuk mendarat perahu, karena hamparan terumbu dan bebatuan cukup membahayakan perahu. Beberapa pantai umumnya tempat bertelur bagi penyu hijau yaitu di pantai Cibulakan, Citirem dan pantai Pangumbahan
  8. Geyser Cisolok

Kedua Geopark ini dapat menjadi destinasi wisata baru karena menawarkan atraksi yang berbeda. Rinjani Geopark sudah lebih dulu terkenal terutama bagi pendaki gunung. Sementara Ciletuh masih perlu upaya-upaya agar Global Geopark ini makin banyak dikenal pelancong lokal maupun asing.

Sumber Tambahan & Foto :

  1. UNESCO Global Geoparks
  2. Rinjani National Park
  3. Ciletuh-PelabuhanRatu Geopark
Iklan

4 respons untuk ‘Selamat! Rinjani & Ciletuh diakui sebagai UNESCO Global Geopark’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s