Horee… Batik Air segera terbang ke Banyuwangi

 

Batik AirBanyuwangi makin menawan dan menjadi impian para pelacong. Akses menuju ke kota yang mengusung tagline ‘The Sunrise of Java’ ini makin banyak dan mudah. Setelah landasan pacu bandara Banyuwangi mampu didarati pesawat Airbus 320, airline seakan berlomba menerbanginya. Yang terbaru adalah Batik Air yang mulai terbang dari Jakarta pada 19 Desember 2018 ini. Batik Air terbang dari Soekarno Hatta pada pukul 08:25 dengan kode ID6590, dan kembali ke Jakarta pukul 11:05 dengan kode penerbangan ID6591. Sebelumnya sudah ada Wings Air, Nam Air, Garuda Indonesia dan Citilink yang terbang ke sana. Continue reading “Horee… Batik Air segera terbang ke Banyuwangi”

Iklan

Kereta bandara Railink : Cara mudah menuju pusat kota Medan

Stasiun Kualanamu
Platform stasiun bandara Kualanamu

Salah satu penanda bandara kelas dunia adalah tersedianya transportasi cepat menuju tengah kota. Seperti Changi dan KLIA yang telah memiliki kereta bandar. Dari Changi Airport penumpang tersambung MRT untuk menjangkau semua tempat di Singapura. KLIA memiliki kereta khusus KLIA Express menuju KL Sentral. Bandara Kualanamu Medan di Deli Serdang juga tersambung dengan kereta bandara dari dan menuju pusat kota Medan. Awal November 2018 lalu, untuk kesekian kalinya saya menggunakan kereta bandara ini menuju kota Medan. Continue reading “Kereta bandara Railink : Cara mudah menuju pusat kota Medan”

Antara bandara Kertajati dan Samarinda, mana yang lebih diminati airline?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bandara Kertajati Majalengka dan bandar APT Pranoto sama-sama mulai beroperasi pada 24 Mei 2018 lalu. Namun bandara APT Pranoto diresmikan lebih belakangan dibandingkan Kertajati yang diresmikan tanggal 24 Mei 2018 lalu. Bandara APT Pranoto baru diresmikan tanggal 25 Oktober 2018 lalu. Kini, setelah lebih 6 bulan beroperasi, manakah yang lebih diminati airline? Continue reading “Antara bandara Kertajati dan Samarinda, mana yang lebih diminati airline?”

Review : Menjaring mimpi di Roemah Oei Lasem

Roemah Oei 6
Tampak depan Roemah Oei. Di bagian depan terdapat 3 kios yang menjual oleh-oleh, kedai kopi, dan soto kemiri

Akhir pekan lalu saya mengunjungi Lasem, kota kecamatan di kabupaten Rembang. Sebenarnya ini mimpi lama yang baru kesampaian. Akulturasi budaya antara Jawa & Tionghoa di Lasem yang menggiring saya begitu ingin mengunjunginya. Di sini, bangunan-bangunan tua dengan arsitektur campuran, dominan China, masih banyak dijumpai. Biar lebih paripurna, saya memutuskan untuk tinggal di penginapan dengan bangunan kuno. Namanya Roemah Oei, yang terletak di Jalan Eyang Sambu (Jatirogo) No 10. Continue reading “Review : Menjaring mimpi di Roemah Oei Lasem”

Menelusuri jejak akulturasi budaya di Lasem

Masjid Jami Lasem 1
Masjid Jami Lasem menjadi bagian sejarah akulturasi budaya di Lasem. Ulama di masjid ini sebagian keturunan Tionghoa

Bagi peminat kebudayaan, Lasem memiliki daya tarik tersendiri. Kota kecamatan di kabupaten Rembang ini bisa menjadi potret akulturasi budaya bisa berjalan dengan seirama. Perpaduan dan bahkan percampuran budaya Jawa & China tumbuh dengan harmonis berbad-abad di sini. Seperti dikutip dari Wikipedia, sejarah mencatat kehadiran etnis Tionghoa di Lasem tidak terlepas dari sejarah perdagangan orang Tionghoa di Indonesia yang menjadikan pesisir utara Jawa (termasuk Lasem) sebagai pintu awal masuknya. Dalam perkembangannya, orang Tionghoa ternyata lebih banyak membaur dengan kebudayaan lokal Indonesia ketimbang dengan masyarakat Belanda saat itu. Namun demikian, orang Tionghoa juga tidak melunturkan budaya asli mereka. Kepentingan Tionghoa tidak hanya pada perdagangan, mereka juga meleburkan diri dengan kelompok pribumi: menikah dengan pribumi bahkan mencampurkan kebudayaan mereka. Continue reading “Menelusuri jejak akulturasi budaya di Lasem”