Kategori: Destination

Menelusuri jejak akulturasi budaya di Lasem

Masjid Jami Lasem 1
Masjid Jami Lasem menjadi bagian sejarah akulturasi budaya di Lasem. Ulama di masjid ini sebagian keturunan Tionghoa

Bagi peminat kebudayaan, Lasem memiliki daya tarik tersendiri. Kota kecamatan di kabupaten Rembang ini bisa menjadi potret akulturasi budaya bisa berjalan dengan seirama. Perpaduan dan bahkan percampuran budaya Jawa & China tumbuh dengan harmonis berbad-abad di sini. Seperti dikutip dari Wikipedia, sejarah mencatat kehadiran etnis Tionghoa di Lasem tidak terlepas dari sejarah perdagangan orang Tionghoa di Indonesia yang menjadikan pesisir utara Jawa (termasuk Lasem) sebagai pintu awal masuknya. Dalam perkembangannya, orang Tionghoa ternyata lebih banyak membaur dengan kebudayaan lokal Indonesia ketimbang dengan masyarakat Belanda saat itu. Namun demikian, orang Tionghoa juga tidak melunturkan budaya asli mereka. Kepentingan Tionghoa tidak hanya pada perdagangan, mereka juga meleburkan diri dengan kelompok pribumi: menikah dengan pribumi bahkan mencampurkan kebudayaan mereka. Lanjutkan membaca “Menelusuri jejak akulturasi budaya di Lasem”

Iklan

Pulau Weh, sekeping surga terlempar di ujung Sumatera

jlon7378.jpg
Iboih Beach

Pohon-pohon rindang menghijau, warna biru tosca terpendar dari laut berair jernih, hewan-hewan liar bebas kerkeliaran, kicauan burung, monyet berkeliaran, dan udaranyapun bersih. Itulah pulau Weh. Pulau Weh (atau We) adalah pulau vulkanik kecil yang terletak di barat laut Pulau Sumatra seluas 60 km². Menurut sejarah, pulau ini dulunya pernah terhubung dengan pulau Sumatra, namun kemudian terpisah oleh laut setelah meletusnya gunung berapi terakhir kali pada zaman Pleistosen. Pulau ini terletak di Laut Andaman. Hiu bermulut besar dapat ditemukan di pantai pulau ini. Selain itu, pulau ini merupakan satu-satunya habitat katak yang statusnya terancam, Bufo valhallae (genus Bufo). Terumbu karang di sekitar pulau diketahui sebagai habitat berbagai spesies ikan. Pulau Weh memang teramat sangat istimewa dan karenanya ditetapkan sebagai suaka alam. Lanjutkan membaca “Pulau Weh, sekeping surga terlempar di ujung Sumatera”

Dari sini mengenang dahsyatnya bencana tsunami Aceh

Aceh Tsunami Museum
Aceh Tsunami Museum

Bencana dahsyat tsunami Aceh sudah lama berlalu, hampir 14 tahun lalu. Kini Aceh sudah benar-benar bangkit dan pulih. Bencana besar 26 Desember 2004 lalu itu masih mengguratkan duka mendalam bagi korban yang selamat. 14 November 2018, untuk pertama kalinya saya mengunjungi Aceh. Dan kebetulan sopir dan pemilik mobil yang mengantarkan saya adalah salah satu korban tsunami yang selamat, karena saat itu sedang menunggu istrinya paska melahirkan di bagian lain Banda Aceh. Sang sopir, nama Pak Busra, kehilangan kedua orang-tuanya dan semua saudaranya. Menapaki jejak bencana tsunami Aceh mengingatkan saya pada betapa kecil dan tak berdayanya manusia ini dimata Sang Pencipta. Lanjutkan membaca “Dari sini mengenang dahsyatnya bencana tsunami Aceh”

Menapaki sisa sejarah kesultanan Deli di Istana Maimun Medan

pqmo3593-e1542651581975.jpg
Istana Maimun

Jalan-jalan ke Medan? Jangan lupa untuk menengok Istana Maimun. Istana Maimun dibangun pada tahun 1988 oleh Sultan Maimun Al Rasyid. Istana ini terletak di Jalan Bridjend Katamso, di tengah kota Medan. Secara keseluruhan istana ini cukup luas, mencapai 4 hektar termasuk halaman. Panjangnya 75,3 meter dari bagian depan sampai bagian belakang, dan tingginya 14,14 meter. Bangunan istana memiliki 2 lantai, didukung oleh pilar kayu dan batu. Arsitektur adalah perpaduan arsitektur mughal, timur tengah, Spanyol, India, Belanda dan Melayu. Arsitek adalah seorang kapten Belanda, bernama T H Van Earp. Lanjutkan membaca “Menapaki sisa sejarah kesultanan Deli di Istana Maimun Medan”

Malioboro yang membuatku selalu kangen Jogja

Jogja IStimewaAwal November 2018, siang itu Jogja terasa sangat terik. Hujan belum juga turun di ujung kemarau ini. Meskipun panas, Jalan Malioboro tetap ramai seakan panas menjadi komplimen dalam menikmati keseruan di jalan ini. Diantara keramaian itu terselip turis asing diantara dominasi wisatawan domestik. Jalan Malioboro tetap menjadi tujuan penting selama di Jogja, apalagi penataan trotoar jalan ini sudah hampir selesai. Karenanya, jalan Malioboro makin membuat kangen Jogja. Lanjutkan membaca “Malioboro yang membuatku selalu kangen Jogja”