Menelusuri jejak akulturasi budaya di Lasem

Masjid Jami Lasem 1
Masjid Jami Lasem menjadi bagian sejarah akulturasi budaya di Lasem. Ulama di masjid ini sebagian keturunan Tionghoa

Bagi peminat kebudayaan, Lasem memiliki daya tarik tersendiri. Kota kecamatan di kabupaten Rembang ini bisa menjadi potret akulturasi budaya bisa berjalan dengan seirama. Perpaduan dan bahkan percampuran budaya Jawa & China tumbuh dengan harmonis berbad-abad di sini. Seperti dikutip dari Wikipedia, sejarah mencatat kehadiran etnis Tionghoa di Lasem tidak terlepas dari sejarah perdagangan orang Tionghoa di Indonesia yang menjadikan pesisir utara Jawa (termasuk Lasem) sebagai pintu awal masuknya. Dalam perkembangannya, orang Tionghoa ternyata lebih banyak membaur dengan kebudayaan lokal Indonesia ketimbang dengan masyarakat Belanda saat itu. Namun demikian, orang Tionghoa juga tidak melunturkan budaya asli mereka. Kepentingan Tionghoa tidak hanya pada perdagangan, mereka juga meleburkan diri dengan kelompok pribumi: menikah dengan pribumi bahkan mencampurkan kebudayaan mereka.

Akulturasi Budaya. Bercampurnya atau akulturasi kebudayaan orang Jawa dengan orang Tionghoa di Lasem tercermin dalam bentuk atau praktik kebudayaan orang Tionghoa di Lasem, dan ini turun temurun diterima baik oleh orang Jawa. Keberadaan kelenteng-kelenteng yang merupakan tempat peribadatan orang Tionghoa masih berdiri kokoh hingga saat ini. Nuansa yang menyelimuti kelenteng tersebut sangat khas dengan budaya Tionghoa dan berada di antara kebudayaan masyarakat Jawa. Ketika hari besar orang Tionghoa tiba pun, mereka akan merayakannya dengan sukacita. Mereka menampilkan beberapa atraksi seperti barongsai, liang liong, wayang potchi, dan upacara-upacara keagamaan tertentu. Kegiatan tersebut juga menjadi tontonan warga lokal serta warga di sekitar Lasem. Hal itu cukup memperlihatkan bahwa keberadaan orang Tionghoa di Lasem amat diterima baik oleh masyarakat setempat. Hubungan yang saling silih asih antar kedua kelompok tercermin dalam praktik-praktik kebudayaan dan keagamaan. Bangunan milik orang Tionghoa, Roemah Oei misalnya, mengijikan untuk digunakan untuk pengajian bulan purnama.

Omah Idjo
Inilah Omah Idjo, bangunan milik etnis Tionghoa ini difungsikan sebagai galeri batik dan penginapan yang mengusung budaya Jawa sebagai tema

Bersatu padu melawan VOC. Kala itu, wilayah Lasem masih belum termasuk dalam wilayah kekuasaan Belanda. Belanda melakukan penyerangan ke wilayah itu dengan dibantu oleh Amangkurat II sebagai boneka pemerintah Belanda di Mataram. Peperangan yang terjadi sangat berlarut-larut hingga menewaskan Raden Mas Qingit yang merupakan putra pertama dari penguasa Lasem kala itu. Kemudian, rakyat Lasem yang terdiri dari kaum santri bersama orang Tionghoa di sana ikut melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda. Pemberontakan yang melibatkan orang Tionghoa itu ternyata tidak hanya terjadi di Lasem, melainkan juga terjadi di wilayah lain seperti di Batavia, Ngawi, Kartasura, dan wilayah-wilayah lain di Jawa Tengah. Sejarah juga mencatat saat terjadi pembantaian terhadap orang Tionghoa yang dilakukan oleh Belanda hingga membuat kurang lebih 1.000 orang Tionghoa di Batavia melarikan diri ke Lasem. Pada tahun 1741, pengungsian orang Tionghoa dari kota-kota lain ke Lasem juga terjadi menyusul pembantaian yang sama. Di Lasem, mereka diterima dengan baik oleh Tumenggung Oei Ing Kiat. Mereka bahkan juga diperkenankan untuk membangun perkampungan baru di tepi Sungai Kamandung (Karangturi), Pereng, dan Soditan.

Monumen Perjuangan
Monumen perjuangan Laskar Tionghoa & Jawa melawan VOC ini terletak di halaman kelenteng Cu An Kiong

Masjid Jami Lasem. Masjid yang berdiri sejak 1588 ini juga tak luput dari sejarah akulturasi itu. Di kompleks masjid ini juga terdapat makam Mbah (Eyang) Sambu yaitu tokoh Islam yang sangat dikenal masyarakat Lasem. Eyang Sambus sangat disegani oleh masyarakat. Beliau adalah penyebar Islam keturunan Tionghoa. Sampi saat ini banyak masyarakat yang berziarah di makam Eyang Sambu ini, bahkan namanya diabadikan menjadi jalan utama di Lasem.

Batik Lasem. Motif batik Lasem menjadi bagian penting dari sejarah Lasem itu sendiri. Batik & motifnya mengalami perubahan, yang secara garis besar terbagi dalam dalam dalam 3 masa :

  1. Awalnya batik Lasem bermotif Majapahit saat daerah ini menjadi mejajdi kerajaan kecil di bawah Majapahit. Motif kain batik tersebut diduga juga sama dengan motif batik Mataram Yogyakarta dan Surakarta (batik vorstenlanden) saat ini, yaitu motif gringsing dan kawung yang berwarna soga serta biru.
  2. Kemudian pada tahun 1335 Saka (1413 Masehi), Kadipaten Lasem kedatangan seorang nakhoda kapal dari Armada Laut laksamana Chengho bernama Bi Nan Un dari negeri Champa (Vietnam). Kapal dari Champa tersebut tepatnya berlabuh ke Pantai Regol yang saat ini bernama Pantai Binangun. Rombongan orang Champa yang beragama Budha itu dikenal piawai di bidang kesenian, termasuk membatik, menari, membuat perhiasan emas, membuat peralatan kuningan, dan lain sebagainya. Lambat laun, Bi Nan Un dikenal ahli membatik dan menari. Ia kemudian menikah dengan Adipati Badranala dan memiliki dua anak, yaitu Wirabajra dan Santibadra. Kitab “Serat Badrasanti” jelas memaparkan data tentang sejarah batik Lasem dimana Puteri Na Li Ni dari Champa (Vietnam) dianggap sebagai perintis pembatikan di Lasem.
  3. Seiring berjalannya waktu, datanglah seorang penjual arak pada tahun 1700-an di Lasem. Perantau tersebut juga berasal dari negeri Tiongkok yang tiba bertepatan dengan masa penjajahan Belanda berlangsung. Sang pendatang sangat terkejut ketika menyaksikan penduduk Tiongkok di Lasem mengalami kesulitan ekonomi. Dengan rasa iba, ia akhirnya bertekad untuk menetap di Lasem dan membantu meningkatkan derajat perekonomian orang Tionghoa di sana. Ia kemudian memberikan pengetahuan kepada orang Tionghoa tentang cara membuat batik tulis. Mula-mula, ia yang mendirikan usaha batik tulis dengan memperkerjakan orang Tionghoa sebagai pekerjanya. Hal itu ia lakukan sembari mengajarkan kepada mereka keterampilan dalam membuat batik tulis. Lambat laun, orang Tionghoa berpikir untuk tidak selamanya menjadi pekerja atau buruh batik tulis. Dalam perkembangannya, usaha batik tulis tersebut rupanya lebih dari mampu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Motif batik Lasem akhirnya dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, Jawa Tengah (Solo dan Yogyakarta), serta pengaruh selera Pantai Utara Jawa

Kelenteng Cu An Kiong. Dibangun dengan sentuhan seni tinggi, Klenteng Cu An Kiong tampak kokoh walau telah berusia ratusan tahun. Tak ada catatan pasti kapan klenteng tertua di Lasem, Rembang, Jawa Tengah itu dibangun. Penjarahan oleh tentara Belanda pada masa penjajahan diyakini turut menghilangkan bukti sejarah tersebut. Saya bertemu dengan perempuan penjaga kelenteng ini, dan menurutnya kelenteng ini berusia 600 tahunan. Dengan bahasa Jawa medok (saya juga ikutan medok), saya disambut dan dijelaskan tentang sejarah kelenteng ini.

Cu An Kiong
Kelenteng Cu An KIong, salah satu kelenteng tertua di tanah Jawa

Kampung Heritage Karang Turi. Di kawasan yang mulai berkembang sejak 1800 ini banyak dijumpai rumah-rumah tua dengan arsitektur China. Beberapa bangunan sudah dialihfungsikan sebagai galeri batik ataupun penginapan, beberapa bangunan lain tetap sebagai rumah tinggal. Foto di bawah ini adalah Rumah Merah atau Tiongkok Kecil, saat ini difungsikan sebagai penginapan, galeri batik, dan cafe

Roemah Oei. Bagunan ini didirikan tahun 1818, yang sekarang difungsikan sebagai museum, cafe shop dan hotel. Saya menginap di tempat ini, dan akan saya siapkan tulisan terpisah pengalaman tinggal di bangunan tua ini.

Roemah Oei 6

24 jam di Lasem memuaskan rasa penasaran saya terhadap Lasem selama ini. Akulturasi berjalan sebagai nadi kehidupan masyarakat di sana, apapun etnisnya. Jadi, tak ada alasan mengoyak harmoni sosial jika kita bisa menjadikannya tetap kokoh.

Follow IG : jalanlagi7

Iklan

Satu respons untuk “Menelusuri jejak akulturasi budaya di Lasem”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s