Mengapa banyak hotel berganti nama? (update : Nov 2017)

Hotel Majapahit Surabaya
Hotel Majapahit Surabaya

Bagi yang sering melintas Jalan Thamrin Jakarta, tentu tahu Bundaran Hotel Indonesia atau Bundaran HI. Ini bundaran paling terkenal di Jakarta. Dinamakan demikian karena Hotel Indonesia memang berada tak jauh dari bundaran legendaris itu. Tapi banyak yang belum tahu bahwa nama lengkapnya sebenarnya adalah Hotel Indonesia Kempinski. Tambahan kata Kempinski ini karena hotel tersebut kini dikelola oleh jaringan manajemen hotel Kempinski. Bukankah dulu pernah ada juga Hotel Kempinski di Jakarta? Ya, dulu memang ada Hotel Mid Plaza Kempisnki, namun hotel yang sama berubah nama menjadi Mid-Plaza Intercontinental dan sekarang (2017) berganti lagi menjadi Ayana Mid-Plaza Jakarta, satu pengelola dengan Ayana Resort Bali. Mengapa hotel-hotel itu harus berganti nama?

Pergantian nama hotel seperti Hotel Indonesia Kempisnki ini juga pernah terjadi pada hotel-hotel lain. Selain HI, hotel-hotel yang berganti nama diantaranya adalah Pullman Hotel Jakarta Thamrin dari Nikko Jakarta dan Hotel President, Sultan Hotel dari Hilton Jakarta, Le Grandeur Mangga Dua dari Dusit Mangga Dua, Grand Tropic dari Mercure Slipi, Mercure Convention Center dari Hotel Horison. Bahkan jauh sebelumnya, ada Dai Ichi Hotel, kemudian berganti nama menjadi Aston Atrium dan terakhir berganti lagi menjadi Lumire Hotel. Aryaduta Suite Sudirman sebelumnya pernah dikelola Aston.

Tropical Garden Bumi Hotel
Tropical Garden Bumi Hotel

Di Surabaya pun setali tiga uang, alias sami mawon. Dulu kita mengenal Hyatt Regency Surabaya, kini sudah berganti nama menjadi Hotel Bumi City Resort Surabaya. Hotel-hotel lain di kota ini yang juga berganti nama adalah Surabaya Plaza Hotel dari Radisson Surabaya, Marriot Hotel dari Westin Hotel, Singgasana Hotel dari Hilton Surabaya. Kemudian ada Sommerset Hotel dari Mercure Surabaya. Ada juga yang hanya sedikit berubah nama seperti Hotel Majapahit yang kembali ke nama asalnya, sebelumnya bernama The Majapahit Mandarin Oriental, Grand Mercure Mirama dari Hotel Mirama, Grand Inna Tunjungan sebelumnya bernama INNA Simpang dan Natour Simpang. Dan ini yang paling sering ganti nama, bekas hotel Ramayana di Jl Basuki Rachmat semua bernama LJ Discovery, berganti Meritus Hotel, kemudian di tahun 2014 berubah menjadi Pullman Hotel dan sekarang berganti lagi menjadi Wyndham. Di Bandung, dulu ada The Chedi, berganti nama menjadi Malya Bandung sebelum nama sekarang, The Padma Bandung. Hyatt Regency Bandung menjadi Aryaduta Bandung. Aston Premiere menjadi Holiday Inn Pasteur.  Dan yang terbaru adalah Holiday Inn Dago menjadi Courthyard by Marriot.

Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa tidak semua hotel dikelola sendiri oleh pemiliknya dan tidak semua hotel dengan merk sama dimiliki oleh pemegang merk. Sebagian pemilik menyerahkannya kepada manajemen hotel (operator), tentu saja dengan perjanjian dan hitungan bisnis tertentu. Hotel-hotel yang dikelola oleh manajemen hotel itu kemudian dinamai dengan merek dari manajemen hotelnya. Misalnya Group Accor yang memiliki merek seperti Sofitel, Ibis, Mercure, Novotel, All Seasons, Pulman dan juga Formule1. Manajemen hotel lainnya adalah Starwood (Sheraton dan Westin), Kempinski, Pan Pacific, Archiepelago International, Swiss Bell-hotel, Hyatt International, Santika, Dafam, Harris dan masih banyak lagi. Kerjasama antara pemilik dan operator hotel itu tentu saja berjangka waktu. Maka saat masa kerjasamanya berakhir, dan tidak diperpanjang, pemilik hotel bisa melakukan kerjasama dengan operator lain lagi. Dan inilah yang menyebabkan hotel-hotel tersebut perlu berganti nama.

Contoh menarik dibalik perubahan nama hotel di Indonesia diantaranya :

  • Hotel Indonesia Kempinski berganti nama karena perubahan operator yang mengelolanya. Alasan yang sama juga terjadi pada Sommerset Surabaya, Marriot Surabaya dari Westin, Aston Atrium, Hyatt Bandung & Surabaya, Courtyard by Marriot Bandung.
  • Hotel berganti nama karena pengalihan pengelolaan dari yang tadinya dikelola sendiri kepada jaringan manajemen hotel seperti pada Pullman City Center Jakarta yang awalnya Hotel Presiden, Grand Mercure Mirama Surabaya dari Hotel Mirama, Novotel Hotel Balikpapan yang sebelumnya adalah Hotel Balikpapan.
  • Beberapa hotel yang tadinya dikelola oleh Hilton kemudian membentuk manajemen hotel sendiri, seperti Sultan Hotel, The Ayodya Resort Bali , Hotel Singgasana Surabaya yang sekarang dikelola oleh Group Singgasana. Kasus yang sama juga terjadi pada Le Grandeur Mangga Dua dan Balikpapan yang tadinya dikelola oleh Dusit Thailand. Hotel-hotel yang awalnya dikelola oleh Raddison membentuk jaringan sendiri (Prime Plaza Hotel) yang kini mengelola Surabaya Plaza Hotel, Kota Bukit Indah Plaza Hotel di Purwakarta, Jogjakarta Plaza Hotel, Sanur Paradise Plaza Hotel, Sanur Paradise Plaza Suites, Bali Dynasty Resort, dan Prime Inn.
  • The Marriot Surabaya Hotel tadinya adalah The Westin Hotel Surabaya. Nah karena Westin merger dengan Starwood yang juga mengelola Sheraton Hotel maka pihak pemilik hotel memutuskan untuk mengalihkan ke manajamen Marriot dengan alasan lokasi Sheraton Hotel Surabaya hanya sepelemparan tumbak dengan hotel tersebut.
  • Rebranding. Group Aerowisata melakukan rebranding untuk hotel-hotel kelolaannya menjadi 3 brand yakni Prama, Kila, dan Asana. Hasilnya diantaranya adalah Prama Grand Preanger dari sebelumnya Grand Preanger, Prama Sanur Beach Bali dari Sanur Beach Bali.
  • Beberapa hotel kembali mengelola hotelnya sendiri, dan lepas dari jaringan manajemen hotel karena pertimbangan pasar hotel tersebut. Pemilik Hyatt Regency Surabaya memutuskan keluar dari jaringan Hyatt dengan pertimbangan tamu-tamunya didominasi dari tamu domestik dan kontribusi tamu dari jaringan Hyatt dianggap tidak cukup besar. Alasan yang sama juga terjadi pada hotel Panorama Regency Batam yang tadinya dikelola oleh Sol Elite dengan Nama Melia Panorama Hotel.

Nah, jika suatu saat Anda check-in pada sebuah hotel dan kemudian saat check-out  sudah mendapati hotel Anda menginap dengan nama berbeda, Anda tidak perlu terlalu heran.

Iklan

7 respons untuk ‘Mengapa banyak hotel berganti nama? (update : Nov 2017)’

  1. iya betul pak, saya alami juga pernah dan merasakan sendiri hotel yang berubah nama, misalnya Grand Angkasa Medan berubah menjadi Grand Mercure Maha Cipta Medan Angkasa. kalau yang cuma berubah isi kamarnya yaitu hotel budget yang bergabung dengan Aixx, tadinya minim fasilias di dalam kamarnya, menjadi seperti hotel berjaringan (misal ada amenities set, snack & minum, AC dingin-terawat, TV kabel dll), menginap di hotel berjaringan (Amxxxx, Zexx, Faxx, Pxx, Maxxxx dll) yang 300 ribuan, saya rasa sangat mirip rasanya dengan Aixx yang 150-200 ribuan kamarnya.

  2. Jonit dengan management internasional tapi tidk ada perubahan malah pengeluaran lebih besar,itu alasan owner Hotel memutuskan utk tidak bekerja sama dengan management dan juga ocupancy kamar tetap saja tamu domestik yang membuat atau menghdiri event,sementara tamu manca yg di angggap akan bisa di datangkan oleh managemen ternyata tidak berhasil sesuai apa yg di janjikan….

  3. wordpress mas toto menjelaskan pertanyaan saya selama ini, saya kira hotel2 berubah nama karena nasionalisasi hehehe

    1. Andry, karena dimiliki swasta kebanyakan karena pertimbangan bisnis semata. Pengertian nasionalisasi sendiri dulu hotel asing lalu dikuasai negara

  4. Bravo mas Toto, pengamat yang jeli. Hebat juga panjenengan ini. Ane aje yang bininya “orang hotel” nggak kepikiran nganalisis kesitu. Memang ada beberapa point yang ane tahu. Bravo No Blood Face I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s